Tuesday, January 7, 2014

HUBUNGAN FILSAFAT DAN KONTRIBUSINYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Oleh         : Bustanil Arifin
Reg UNJ : 7816120727

FILSAFAT ILMU DAN HUBUNGANNYA DENGAN SAINS
Menurut Robert Ackermann, filsafat ilmu dalam suatu segi adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam krangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang bebas dari praktek ilmiah senyatanya.
Filsafat Ilmu sangat penting peranannya terhadap penalaran manusia untuk membangun ilmu. Sebab, Filsafat Ilmu akan menyelidiki, menggali, dan menelusuri sedalam, sejauh, dan seluas mungkin semua tentang hakikat Ilmu. Dalam hal ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan akar dari semua ilmu dan pengetahuan.
Beberapa pandangan mengenai Filsafat Ilmu diantaranya Filsafat Ilmu merupakan suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah. Filsafat ilmu adalah pembandingan atau pengembangan pendapat-pendapat masa lampau terhadap pendapat-pendapat masa sekarang yang didukung dengan bukti-bukti ilmiah. Filsafat ilmu merupakan paparan dugaan dan kecenderungan yang tidak terlepas dari pemikiran para ilmuwan yang menelitinya.
Filsafat, banyak orang menganggapnya sebagai suatu hal yang sulit untuk diterima keberadaannya. Tatkala mendengar ada orang berfilsafat, maka asumsi yang muncul cenderung menganggap bahwa dia mulai memasuki daerah yang menyesatkan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru dengan filasafatlah orang akan menemukan hakikat dari segala sesuatu yang ada, mengingat filsafat itu sendiri berarti melihat segala sesuatu dengan penuh perhatian dan minat, atau berfikir tentang segala sesuatu dengan disadarinya.
Filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai suatu disiplin, konsep, dan teori tentang ilmu yang sudah dianalisis serta diklasifikasikan. Filsafat ilmu adalah perumusan pandangan tentang ilmu berdasarkan penelitian secara ilmiah. Kemudian dari sini kita punya sebuah pokok bahasan tentang sejauh mana filsafat ilmu mempunyai kontribusi pada pendidikan, yang selanjutnya akan dibahas untuk selanjutnya.
Filsafat ilmu berbicara tentang bagaimana ilmu diperoleh. Dengan tiga landasan untuk memperolehnya yaitu epistemologi, aksiologi dan ontologi. Dan filsafat ilmu tidak berbicara dalam-dalam mengenai pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu mempersoalkan istilah-istilah penting dalam ilmu pengetahuan tanpa sibuk dengan isi kandungan ilmu pengetahuan.
Kemudian filsafat juga menyelidiki, membahas, serta memikirkan seluruh alam kenyataan, dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama lain. Dan filsafat juga memandangnya sebagai satu kesatuan tak terpisahkan dan membahasnya secara menyeluruh. Filsafat juga menyelidiki tentang sebab-akibat dan menyelidiki hakikatnya sekaligus. Dan dalam pembahasannya filsafat menjawab apa ia sebenarnya, dari mana asalnya, dan hendak kemana perginya. Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa filsafat merupakan ibu dari ilmu-ilmu vak. Mungkin karena berasalan bahwa ilmu vak sering menghadapi kesulitan dalam menentukan batas-batas lingkungannya masing-masing. Seperti batas antara ilmu alam dengan ilmu hayat, antara sosologi dengan antropologi. Ilmu-ilmu tersebut dengan sendirinya sukar menentukan batas-batas masing-masing. Suatu instansi yang lebih tinggi, yaitu ilmu filsafat itulah yang mengatur dan menyelesaikan hubungan dan perbedaan batas-batas antara ilmu-ilmu vak tersebut.
Sebab-sebab yang terdalam Dengan ini ditunjuk sudut pandangan, aspek khusus, sudut khusus yang dipelajari dalam segala sesuatu itu. Sudut pandangan (juga disebut "object formal") ini yang membedakan berbagai ilmu pengetahuan yang mengenai objek atau lapangan yang sama. Misalnya ilmu kedoktoran mempelajari manusia dilihat dari sudut tubuhnya yang sakit dan harusnya disembuhkan, sosiologi mempelajari manusia dalam sudut kemasyarakatan. Demikianlah filsafat mempelajari dalam segala sesuatu itu ialah keterangan yang penghabisan, yang terakhir, dan terdalam, sampai habis, sampai pada sebab yang terakhir. Yang kita cari ialah kebijaksanaan, hakikat dari seluruh kenyataan, intisari dan esensi dari semua yang ada.
Kekuatan pikiran manusia sendiri dengan ini ditunjuk alat yang kita gunakan dalam usaha kita untuk mencapai kebijaksanaan itu, yaitu pikiran kita sendiri. Ini membedakan filsafat dari teologi (ilmu ke-Allahan) yang juga mengenai segala sesuatu, tetapi yang berdasarkan wahyu Tuhan. Filsafat tidak berdasarkan wahyu Tuhan, tidak meminta pertolongan dari Kitab Suci, tetapi berdasarkan asas-asas dan dasar-dasarnya hanya dengan cara analisis-analisis oleh pikiran kita sendiri. Justru karena itu, filsafat dapat merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum, bagi setiap orang, terserah agama mana yang dianutnya. Akan tetapi, ini pun kelemahan filsafat: jika hanya filsafat saja yang cukup dipakai sebagai pegangan hidup, pandangan hidup, maka ini tidak cukup, sebab banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan 100% memuaskan oleh filsafat, sedangkan filsafat sendiri dalam usahanya mencari hakikat dari seluruh kenyataan menunjuk kepada Tuhan sebagai sumber terakhir dan sebab pertama.

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA
Al-Qur’an sebagai wahyu dan sumber pengetahuan yang tak terbantahkan adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk mengatur hajat hidup orang banyak, terkhusus umat Islam. Di dalamnya memuat hukum-hukum yang muhkamat (tidak perlu tafsir) dan hukum-hukum mutasyabihat (memerlukan tafsir). Dalam memahami al-Qur’an umat Islam memerlukan Hadits Nabi Muhammad Saw sebagai alat bantu memahami ayat demi ayat. Jika ada hukum yang belum jelas aturannya maka hadist Nabi lah yang menjelaskannya lebih rinci. Tentunya dalam memahami al-Qur’an dan kebenaran yang terkandung di dalamnya, dibutuhkan pengetahuan yang terstruktur, pemahaman yang komprehensip terhadap hukum-hukum Islam. Pengetahuan yang terstruktur tersebut amat sangat dibantu oleh cara berfikir filsafat yang terstruktur, tentunya dengan dasar pengambilan hukum yang sesuai dengan aturan al-Qur’an dan Hadits (disebut ushul Fiqh).

KONTRIBUSI FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Tidak dapat kita pungkiri bahwa berfilsafat sebagai manifestasi kegiatan intelektual yang telah meletakan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi keilmuan dalam kehidupan masyarakat ilmiah ala barat, yang sebenarnya filsafat itu sendiri datang dari timur. Filsafat dari Semenjak tahun 1960 filsafat ilmu mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang ditopang penuh oleh positivisme-empirik, melalui penelaahan dan pengukuran kuantitatif sebagai andalan utamanya. Berbagai penemuan teori dan penggalian ilmu berlangsung secara mengesankan.
Pada periode ini berbagai kejadian dan peristiwa yang sebelumnya mungkin dianggap sesuatu yang mustahil, namun berkat kemajuan ilmu dan teknologi dapat berubah menjadi suatu kenyataan. Bagaimana pada waktu itu orang dibuat tercengang dan terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar menjadi manusia pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan. Begitu juga ketika manusia berhasil mengembangkan teori rekayasa genetika dengan melakukan percobaan cloning pada kambing, atau mengembangkan cyber technology, yang memungkinkan manusia untuk menjelajah dunia melalui internet. Belum lagi keberhasilan manusia dalam mencetak berbagai produk nano technology, dalam bentuk mesin-mesin micro-chip yang serba mini namun memiliki daya guna sangat luar biasa.
Semua keberhasilan ini kiranya semakin memperkokoh keyakinan manusia terhadap kebesaran ilmu dan teknologi. Memang, tidak dipungkiri lagi bahwa positivisme-empirik yang serba matematik, fisikal, reduktif dan free of value telah membuktikan kehebatan dan memperoleh kejayaannya, serta memberikan kontribusi yang besar dalam membangun peradaban manusia seperti sekarang ini sehingga filsafat ilmu dikatakan sebagai akar dari sebuah ilmu.
Dan kontribusi filsafat ilmu yang melahirkan ilmu pengetahuan dan dari ilmu pengetahuan ditemukan kemudahan-kemudahan dalam menjadi kehidupan di dunia. Seperti pecahnya revolusi industri adalah salah satu contoh kontribusi pengatahuan terhadap kehidupan manusia, dengannya tanaga manusia tergantikan, yang dengannya lebih hemat waktu, biaya dan tentunya tenaga. Kemudian pada contoh yang berbeda adalah komputer yang mampu membuat pekerjaan rumah manusia menjadi amat sangat mudah dan praktis, hampir-hampir peranan manusia betul-betul tergantikan oleh mesin tersebut.

KONTRIBUSI FILSAFAT DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI
“Hidup yang tak dipikirkan adalah hidup yang tak pantas dijalani” begitu kata sokrates ketika ia masih hidup. Ia memandang bahwa hidup yang bermakna dan berkualitas tinggi itu harus dijalani dengan menggunakan pikiran yang dimiliki manusia. Proses berpikir merupakan menggunakan pikiran yang dimiliki manusia. Proses berpikir merupakan suatu kemampuan yang melekat pada makhluk manusia yang berbeda dengan spesies lainnya, yaitu binatang dan tumbuhan. Menurut Aristoteles, filsuf yunani kuno, nalarlah yang membedakan manusia dari binatang, sedangkan seluruh fungsi tubuh yang lain sama dengan binatang.
Lihatlah tumbuhan. Mereka tumbuh dan berkembang semata-mata ditentukan dan tergantung pada alam yang ada, pada syarat-syarat material tempat, dan lingkungannya tumbuh. Demikian juga hewan, yang hidup dengan mengikuti naluri dan hawa nafsunya, tidak memiliki perasaan dan pikiran atau akal dalam mengambil keputusan. Sedangkan, manusia memiliki pertimbangan sebelum melakukan sesuatu. Manusia memiliki imajinasi dan mampu merespons dunia dan mengait-kaitkan setiap kejadian dan situasi lingkungan kemudian mengatasinya dengan menggunakan akalnya, mampu menghadapi alam, menjelaskannya, dan merekayasanya untuk memudahkan kehidupan dan mengembangkan kebudayaannya.
Apakah manusia harus mengetahui hal-ihwal kehidupan agar dapat terus meneruskan hidup kita sehari-hari? Tentu jawabannya adalah tidak. Namun, jika kita ingin mendapat satu pemahaman rasional mengenai dunia yang kita diami ini, proses-proses dasar yang bekerja di alam, masyarakat, dan cara kita untuk memandangnya, persoalannya akan jadi lain.
Hal itu berkaitan dengan posisi filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, juga berkaitan dengan bagaimanakah filsafat memengaruhi cara orang bertindak. Kemudian juga, apa saja yang memengaruhi orang untuk berfilsafat. Sepertinya memang, ada hubungan antara cara manusia berpikir dan kualitas atau model kehidupan yang diterimanya. Model kehidupan yang penulis maksud di sini, misalnya hubungan antara satu manusia dan lainnya, serta kebudayaan yang diterimanya, hingga tindakan-tindakan yang dilakukannya.
Dalam  kehidupan manusia dari zaman ke zaman, atau dalam kehidupan manusia dari berbagai kelompok sosial yang berbeda, berbagai cara pandang filsafat juga muncul, sesuai dengan perkembangan sosial kelompok masing-masing. Kita melihat Negara-negara atau kawasan yang berbeda perkembangan budayanya dengan ditunjukkan oleh tingkat capaian ekonomi, politik, hingga capaian teknologinya, juga akan menunjukkan perbedaan cara pandangnya.
Misalnya, bandingkan eropa dengan asia, atau bandingkan Prancis dengan Indonesia. Cara orang memahami dunia, memahami orang lain dan hubungan dengan orang lain, serta cara memandang alam ternyata sangat menunjukkan bagaimana perkembangan kehidupannya secara material atau secara nyata. Perbedaan tentang nilai, mana yang baik dan mana yang buruk, juga akan menentukan bagaimana perkembangan masyarakat tersebut secara material.
Namun juga sebaliknya, perkembangan cara berpikir dan kemampuan juga kebutuhan untuk memahami dunia, juga terkait erat dengan kebutuhan untuk bertahan hidup pada ranah material. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk hidup yang harus bertahan hidup dari alam, mendapatkan sesuatu dari alam untuk bertahan hidup, mengembangkan kehidupannya. Karena alam merupakan suatu yang bergerak (berubah), ada tingkat-tingkat kesulitan yang harus dihadapi. Kesulitan ini dikenal sebagai kontradiksi alam. Untuk hidup, manusia harus mengatasi kontradiksi alam itu.
Ini adalah hukum sejarah. Sebagai contoh: lapar, misalnya, adalah bentuk kontradiksi karena manusia adalah bagian dari alam juga. Maka, hal itu harus dihadapi. Akan tetapi, tidak semua bagian dari alam bisa dimakan atau dimasukkan perut begitu saja. Mereka harus mencari, yang dilakukannya dengan bergerak dan bekerja. Karena itulah, mereka berhadapan dengan alam yang harus dihadapi kesulitan-kesulitannya dengan cara mengatasi hambatan-hambatan material dan kenyataan.
Dalam menghadapi kesulitan-kesulitan itulah, manusia mengalami pengalaman-pengalaman dan penemuan-penemuan yang kemudian menjadi kumpulan pengetahuan. Pengetahuan bisa berupa wawasan, menjadi kumpulan pengetahuan. Pengetahuan bisa berupa wawasan, juga bisa yang mendukung keterampilan teknik. Hal itu mustahil jika tak juga bisa yang mendukung keterampilan teknik. Hal itu mustahil jika tak dialami dari kerja konkret berhadapan dengan alam. Jadi, basis pengetahuan dan cara pandang adalah kenyataan material akibat kerja itu. Akan tetapi, pada suatu waktu, seiring dengan perjalanan sejarah, pengetahuan-pengetahuan yang kian bertambah melahirkan kesimpulan, melahirkan dasar bagi pengetahuan setelahnya yang akan meningkatnya kecanggihan pengetahuan manusia. Akibat nyata dari berkembangnya pengetahuan, juga diikuti dengan perkembangan teknik dalam memudahkan mencari makanan, menjalani kehidupan, dan mengembangkannya.
Bukti bahwa kerja dan kenyataan menghadapi alamlah yang memunculkan pengetahuan dan teknik, misalnya awal manusia memenuhi kebutuhan makanan dengan cara memetik buah yang letaknya rendah, atau menangkap binatang (hewan) dengan cara mudah tanpa bantuan alat. Namun, pada akhirnya ia belajar dari alam tentang hukum-hukumnya. Misalnya, suatu saat ketika ia berjalan di tengah hutan, kebetulan badannya tertusuk semak-semak tajam yang membuat kulitnya berdarah, akibat ranting yang bentuknya lancip. Akibatnya luka itu membuat dirinya kian lemah dan lemas. Dari sini ia mengambil kesimpulan bahwa kalau makhluk hidup kena benda tajam, ia akan mengeluarkan darah dan kian lemah bahkan bisa mati. Pengalaman semacam inilah yang membuat ia membuat tombak atau benda runcing yang bisa mempermudah menangkap hewan, bahkan melawan hewan buas yang menghambat perjalanannya mencari makanan.
Makhluk-makhluk hominid menemukan penggunaan keping-keping batu untuk memotong daging hewan yang berkulit tebal sehingga mereka beruntung karena mampu bertahan hidup ketimbang makhluk-makhluk lain yang tidak sanggup meraih sumber property dan lemak yang luar biasa itu. Merekalah manusia, yang sanggup menyempurnakan alat-alat bantu mereka, dan yang sanggup mencari tempat yang menyediakan batu-batu terbaik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup. Ditemukannya besi, yang lebih maju dari batu, membuat perkembangan teknik berjalan secara radikal. Seiring perkembangan teknologi, muncullah pula perkembangan nalar dan kebutuhan untuk menjelaskan berbagai gejala alam yang mengatur hidup mereka. Dalam jangka yang sangat lama, bukan hanya puluhan tahun, melainkan juga jutaan tahun, melalui trial and error, nenek moyang mulai menetapkan berbagai hubungan antar materi-materi dalam kehidupan. Mereka mulai membuat abstraksi, yaitu menggeneralisasi pengalaman dan praktik yang mereka temui sehari-hari.[1]




[1] http://ilmufajar.com/index.php/tag/filsafat-2/


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home