HUBUNGAN FILSAFAT DAN KONTRIBUSINYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Oleh
: Bustanil Arifin
Reg UNJ :
7816120727
FILSAFAT ILMU DAN
HUBUNGANNYA DENGAN SAINS
Menurut Robert Ackermann, filsafat ilmu dalam suatu segi
adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini
dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan
atau dalam krangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat
demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang
bebas dari praktek ilmiah senyatanya.
Filsafat
Ilmu sangat penting peranannya terhadap penalaran manusia untuk membangun ilmu.
Sebab, Filsafat Ilmu akan menyelidiki, menggali, dan menelusuri sedalam,
sejauh, dan seluas mungkin semua tentang hakikat Ilmu. Dalam hal ini, kita bisa
mendapatkan gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan akar dari semua ilmu dan
pengetahuan.
Beberapa
pandangan mengenai Filsafat Ilmu diantaranya Filsafat Ilmu merupakan suatu
tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah. Filsafat ilmu adalah
pembandingan atau pengembangan pendapat-pendapat masa lampau terhadap
pendapat-pendapat masa sekarang yang didukung dengan bukti-bukti ilmiah.
Filsafat ilmu merupakan paparan dugaan dan kecenderungan yang tidak terlepas
dari pemikiran para ilmuwan yang menelitinya.
Filsafat,
banyak orang menganggapnya sebagai suatu hal yang sulit untuk diterima
keberadaannya. Tatkala mendengar ada orang berfilsafat, maka asumsi yang muncul
cenderung menganggap bahwa dia mulai memasuki daerah yang menyesatkan. Padahal
kenyataannya tidak demikian. Justru dengan filasafatlah orang akan menemukan
hakikat dari segala sesuatu yang ada, mengingat filsafat itu sendiri berarti
melihat segala sesuatu dengan penuh perhatian dan minat, atau berfikir tentang
segala sesuatu dengan disadarinya.
Filsafat
ilmu dapat dimaknai sebagai suatu disiplin, konsep, dan teori tentang ilmu yang
sudah dianalisis serta diklasifikasikan. Filsafat ilmu adalah perumusan
pandangan tentang ilmu berdasarkan penelitian secara ilmiah. Kemudian dari sini
kita punya sebuah pokok bahasan tentang sejauh mana filsafat ilmu mempunyai
kontribusi pada pendidikan, yang selanjutnya akan dibahas untuk selanjutnya.
Filsafat
ilmu berbicara tentang bagaimana ilmu diperoleh. Dengan tiga landasan untuk
memperolehnya yaitu epistemologi, aksiologi dan ontologi. Dan filsafat ilmu
tidak berbicara dalam-dalam mengenai pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu
mempersoalkan istilah-istilah penting dalam ilmu pengetahuan tanpa sibuk dengan
isi kandungan ilmu pengetahuan.
Kemudian
filsafat juga menyelidiki, membahas, serta memikirkan seluruh alam kenyataan,
dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama lain. Dan filsafat juga
memandangnya sebagai satu kesatuan tak terpisahkan dan membahasnya secara
menyeluruh. Filsafat juga menyelidiki tentang sebab-akibat dan menyelidiki
hakikatnya sekaligus. Dan dalam pembahasannya filsafat menjawab apa ia
sebenarnya, dari mana asalnya, dan hendak kemana perginya. Mungkin sebagian
orang berpendapat bahwa filsafat merupakan ibu dari ilmu-ilmu vak. Mungkin
karena berasalan bahwa ilmu vak sering menghadapi kesulitan dalam menentukan
batas-batas lingkungannya masing-masing. Seperti batas antara ilmu alam dengan
ilmu hayat, antara sosologi dengan antropologi. Ilmu-ilmu tersebut dengan
sendirinya sukar menentukan batas-batas masing-masing. Suatu instansi yang
lebih tinggi, yaitu ilmu filsafat itulah yang mengatur dan menyelesaikan
hubungan dan perbedaan batas-batas antara ilmu-ilmu vak tersebut.
Sebab-sebab yang terdalam Dengan ini ditunjuk sudut
pandangan, aspek khusus, sudut khusus yang dipelajari dalam segala sesuatu itu.
Sudut pandangan (juga disebut "object formal") ini yang membedakan berbagai
ilmu pengetahuan yang mengenai objek atau lapangan yang sama. Misalnya ilmu
kedoktoran mempelajari manusia dilihat dari sudut tubuhnya yang sakit dan
harusnya disembuhkan, sosiologi mempelajari manusia dalam sudut kemasyarakatan.
Demikianlah filsafat mempelajari dalam segala sesuatu itu ialah keterangan yang
penghabisan, yang terakhir, dan terdalam, sampai habis, sampai pada sebab yang
terakhir. Yang kita cari ialah kebijaksanaan, hakikat dari seluruh kenyataan,
intisari dan esensi dari semua yang ada.
Kekuatan pikiran manusia sendiri dengan ini ditunjuk alat
yang kita gunakan dalam usaha kita untuk mencapai kebijaksanaan itu, yaitu
pikiran kita sendiri. Ini membedakan filsafat dari teologi (ilmu ke-Allahan)
yang juga mengenai segala sesuatu, tetapi yang berdasarkan wahyu Tuhan.
Filsafat tidak berdasarkan wahyu Tuhan, tidak meminta pertolongan dari Kitab
Suci, tetapi berdasarkan asas-asas dan dasar-dasarnya hanya dengan cara
analisis-analisis oleh pikiran kita sendiri. Justru karena itu, filsafat dapat
merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum, bagi setiap orang, terserah agama
mana yang dianutnya. Akan tetapi, ini pun kelemahan filsafat: jika hanya
filsafat saja yang cukup dipakai sebagai pegangan hidup, pandangan hidup, maka
ini tidak cukup, sebab banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan 100%
memuaskan oleh filsafat, sedangkan filsafat sendiri dalam usahanya mencari
hakikat dari seluruh kenyataan menunjuk kepada Tuhan sebagai sumber terakhir
dan sebab pertama.
HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA
Al-Qur’an sebagai wahyu dan sumber
pengetahuan yang tak terbantahkan adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad untuk mengatur hajat hidup orang banyak, terkhusus umat Islam. Di
dalamnya memuat hukum-hukum yang muhkamat (tidak perlu tafsir)
dan hukum-hukum mutasyabihat (memerlukan tafsir). Dalam
memahami al-Qur’an umat Islam memerlukan Hadits Nabi Muhammad Saw sebagai alat
bantu memahami ayat demi ayat. Jika ada hukum yang belum jelas aturannya maka
hadist Nabi lah yang menjelaskannya lebih rinci. Tentunya dalam memahami
al-Qur’an dan kebenaran yang terkandung di dalamnya, dibutuhkan pengetahuan
yang terstruktur, pemahaman yang komprehensip terhadap hukum-hukum Islam.
Pengetahuan yang terstruktur tersebut amat sangat dibantu oleh cara berfikir filsafat
yang terstruktur, tentunya dengan dasar pengambilan hukum yang sesuai dengan
aturan al-Qur’an dan Hadits (disebut ushul Fiqh).
KONTRIBUSI FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU
PENGETAHUAN
Tidak
dapat kita pungkiri bahwa berfilsafat sebagai manifestasi kegiatan intelektual
yang telah meletakan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi keilmuan dalam
kehidupan masyarakat ilmiah ala barat, yang sebenarnya filsafat itu sendiri
datang dari timur. Filsafat dari Semenjak tahun 1960 filsafat ilmu mengalami
perkembangan yang sangat pesat, terutama sejalan dengan pesatnya perkembangan
ilmu dan teknologi yang ditopang penuh oleh positivisme-empirik, melalui
penelaahan dan pengukuran kuantitatif sebagai andalan utamanya. Berbagai
penemuan teori dan penggalian ilmu berlangsung secara mengesankan.
Pada
periode ini berbagai kejadian dan peristiwa yang sebelumnya mungkin dianggap
sesuatu yang mustahil, namun berkat kemajuan ilmu dan teknologi dapat berubah
menjadi suatu kenyataan. Bagaimana pada waktu itu orang dibuat tercengang dan
terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar menjadi manusia pertama yang
berhasil menginjakkan kaki di Bulan. Begitu juga ketika manusia berhasil
mengembangkan teori rekayasa genetika dengan melakukan percobaan cloning pada
kambing, atau mengembangkan cyber technology, yang memungkinkan manusia untuk
menjelajah dunia melalui internet. Belum lagi keberhasilan manusia dalam
mencetak berbagai produk nano technology, dalam bentuk mesin-mesin micro-chip
yang serba mini namun memiliki daya guna sangat luar biasa.
Semua
keberhasilan ini kiranya semakin memperkokoh keyakinan manusia terhadap
kebesaran ilmu dan teknologi. Memang, tidak dipungkiri lagi bahwa
positivisme-empirik yang serba matematik, fisikal, reduktif dan free of value
telah membuktikan kehebatan dan memperoleh kejayaannya, serta memberikan
kontribusi yang besar dalam membangun peradaban manusia seperti sekarang ini
sehingga filsafat ilmu dikatakan sebagai akar dari sebuah ilmu.
Dan
kontribusi filsafat ilmu yang melahirkan ilmu pengetahuan dan dari ilmu
pengetahuan ditemukan kemudahan-kemudahan dalam menjadi kehidupan di dunia.
Seperti pecahnya revolusi industri adalah salah satu contoh kontribusi
pengatahuan terhadap kehidupan manusia, dengannya tanaga manusia tergantikan,
yang dengannya lebih hemat waktu, biaya dan tentunya tenaga. Kemudian pada
contoh yang berbeda adalah komputer yang mampu membuat pekerjaan rumah manusia
menjadi amat sangat mudah dan praktis, hampir-hampir peranan manusia
betul-betul tergantikan oleh mesin tersebut.
KONTRIBUSI FILSAFAT DENGAN KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
“Hidup
yang tak dipikirkan adalah hidup yang tak pantas dijalani” begitu kata sokrates
ketika ia masih hidup. Ia memandang bahwa hidup yang bermakna dan berkualitas
tinggi itu harus dijalani dengan menggunakan pikiran yang dimiliki manusia.
Proses berpikir merupakan menggunakan pikiran yang dimiliki manusia. Proses
berpikir merupakan suatu kemampuan yang melekat pada makhluk manusia yang
berbeda dengan spesies lainnya, yaitu binatang dan tumbuhan. Menurut
Aristoteles, filsuf yunani kuno, nalarlah yang membedakan manusia dari
binatang, sedangkan seluruh fungsi tubuh yang lain sama dengan binatang.
Lihatlah
tumbuhan. Mereka tumbuh dan berkembang semata-mata ditentukan dan tergantung
pada alam yang ada, pada syarat-syarat material tempat, dan lingkungannya
tumbuh. Demikian juga hewan, yang hidup dengan mengikuti naluri dan hawa
nafsunya, tidak memiliki perasaan dan pikiran atau akal dalam mengambil
keputusan. Sedangkan, manusia memiliki pertimbangan sebelum melakukan sesuatu.
Manusia memiliki imajinasi dan mampu merespons dunia dan mengait-kaitkan setiap
kejadian dan situasi lingkungan kemudian mengatasinya dengan menggunakan
akalnya, mampu menghadapi alam, menjelaskannya, dan merekayasanya untuk
memudahkan kehidupan dan mengembangkan kebudayaannya.
Apakah
manusia harus mengetahui hal-ihwal kehidupan agar dapat terus meneruskan hidup
kita sehari-hari? Tentu jawabannya adalah tidak. Namun, jika kita ingin
mendapat satu pemahaman rasional mengenai dunia yang kita diami ini,
proses-proses dasar yang bekerja di alam, masyarakat, dan cara kita untuk
memandangnya, persoalannya akan jadi lain.
Hal
itu berkaitan dengan posisi filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, juga
berkaitan dengan bagaimanakah filsafat memengaruhi cara orang bertindak.
Kemudian juga, apa saja yang memengaruhi orang untuk berfilsafat. Sepertinya
memang, ada hubungan antara cara manusia berpikir dan kualitas atau model
kehidupan yang diterimanya. Model kehidupan yang penulis maksud di sini,
misalnya hubungan antara satu manusia dan lainnya, serta kebudayaan yang
diterimanya, hingga tindakan-tindakan yang dilakukannya.
Dalam
kehidupan manusia dari zaman ke zaman, atau dalam kehidupan manusia dari
berbagai kelompok sosial yang berbeda, berbagai cara pandang filsafat juga
muncul, sesuai dengan perkembangan sosial kelompok masing-masing. Kita melihat
Negara-negara atau kawasan yang berbeda perkembangan budayanya dengan
ditunjukkan oleh tingkat capaian ekonomi, politik, hingga capaian teknologinya,
juga akan menunjukkan perbedaan cara pandangnya.
Misalnya,
bandingkan eropa dengan asia, atau bandingkan Prancis dengan Indonesia. Cara
orang memahami dunia, memahami orang lain dan hubungan dengan orang lain, serta
cara memandang alam ternyata sangat menunjukkan bagaimana perkembangan
kehidupannya secara material atau secara nyata. Perbedaan tentang nilai, mana
yang baik dan mana yang buruk, juga akan menentukan bagaimana perkembangan
masyarakat tersebut secara material.
Namun
juga sebaliknya, perkembangan cara berpikir dan kemampuan juga kebutuhan untuk
memahami dunia, juga terkait erat dengan kebutuhan untuk bertahan hidup pada
ranah material. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk hidup yang harus
bertahan hidup dari alam, mendapatkan sesuatu dari alam untuk bertahan hidup,
mengembangkan kehidupannya. Karena alam merupakan suatu yang bergerak
(berubah), ada tingkat-tingkat kesulitan yang harus dihadapi. Kesulitan ini
dikenal sebagai kontradiksi alam. Untuk hidup, manusia harus mengatasi
kontradiksi alam itu.
Ini
adalah hukum sejarah. Sebagai contoh: lapar, misalnya, adalah bentuk
kontradiksi karena manusia adalah bagian dari alam juga. Maka, hal itu harus
dihadapi. Akan tetapi, tidak semua bagian dari alam bisa dimakan atau
dimasukkan perut begitu saja. Mereka harus mencari, yang dilakukannya dengan
bergerak dan bekerja. Karena itulah, mereka berhadapan dengan alam yang harus
dihadapi kesulitan-kesulitannya dengan cara mengatasi hambatan-hambatan
material dan kenyataan.
Dalam
menghadapi kesulitan-kesulitan itulah, manusia mengalami pengalaman-pengalaman
dan penemuan-penemuan yang kemudian menjadi kumpulan pengetahuan. Pengetahuan
bisa berupa wawasan, menjadi kumpulan pengetahuan. Pengetahuan bisa berupa
wawasan, juga bisa yang mendukung keterampilan teknik. Hal itu mustahil jika
tak juga bisa yang mendukung keterampilan teknik. Hal itu mustahil jika tak
dialami dari kerja konkret berhadapan dengan alam. Jadi, basis pengetahuan dan
cara pandang adalah kenyataan material akibat kerja itu. Akan tetapi, pada
suatu waktu, seiring dengan perjalanan sejarah, pengetahuan-pengetahuan yang
kian bertambah melahirkan kesimpulan, melahirkan dasar bagi pengetahuan setelahnya
yang akan meningkatnya kecanggihan pengetahuan manusia. Akibat nyata dari
berkembangnya pengetahuan, juga diikuti dengan perkembangan teknik dalam
memudahkan mencari makanan, menjalani kehidupan, dan mengembangkannya.
Bukti
bahwa kerja dan kenyataan menghadapi alamlah yang memunculkan pengetahuan dan
teknik, misalnya awal manusia memenuhi kebutuhan makanan dengan cara memetik
buah yang letaknya rendah, atau menangkap binatang (hewan) dengan cara mudah
tanpa bantuan alat. Namun, pada akhirnya ia belajar dari alam tentang
hukum-hukumnya. Misalnya, suatu saat ketika ia berjalan di tengah hutan,
kebetulan badannya tertusuk semak-semak tajam yang membuat kulitnya berdarah,
akibat ranting yang bentuknya lancip. Akibatnya luka itu membuat dirinya kian
lemah dan lemas. Dari sini ia mengambil kesimpulan bahwa kalau makhluk hidup
kena benda tajam, ia akan mengeluarkan darah dan kian lemah bahkan bisa mati.
Pengalaman semacam inilah yang membuat ia membuat tombak atau benda runcing
yang bisa mempermudah menangkap hewan, bahkan melawan hewan buas yang
menghambat perjalanannya mencari makanan.
Makhluk-makhluk
hominid menemukan penggunaan keping-keping batu untuk memotong daging hewan
yang berkulit tebal sehingga mereka beruntung karena mampu bertahan hidup
ketimbang makhluk-makhluk lain yang tidak sanggup meraih sumber property dan
lemak yang luar biasa itu. Merekalah manusia, yang sanggup menyempurnakan
alat-alat bantu mereka, dan yang sanggup mencari tempat yang menyediakan
batu-batu terbaik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup.
Ditemukannya besi, yang lebih maju dari batu, membuat perkembangan teknik
berjalan secara radikal. Seiring perkembangan teknologi, muncullah pula
perkembangan nalar dan kebutuhan untuk menjelaskan berbagai gejala alam yang
mengatur hidup mereka. Dalam jangka yang sangat lama, bukan hanya puluhan
tahun, melainkan juga jutaan tahun, melalui trial and error, nenek moyang mulai
menetapkan berbagai hubungan antar materi-materi dalam kehidupan. Mereka mulai
membuat abstraksi, yaitu menggeneralisasi pengalaman dan praktik yang mereka
temui sehari-hari.[1]
[1] http://ilmufajar.com/index.php/tag/filsafat-2/

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home