Friday, September 29, 2017

TESIS_BAB I : Pengaruh Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab _ TESIS Bustanil Arifin s2 PEP UNJ

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Bahasa Arab merupakan bahasa dunia kedua setelah Bahasa Inggris dan dijadikan sebagai bahasa pengantar pada madrasah-madrasah di Indonesia dengan tujuan untuk memahami ajaran Islam. Dengan Bahasa Arab  ajaran  Islam  dapat difahami  secara  benar  dan  mendalam  dari  sumber  utamanya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.  Leteratur-literatur peninggalan ulama-ulama terdahulu banyak menggunakan bahasa Arab, seperti Tafsir Qur’an (Tafsir Qurthubi) dan Tafsir Hadits (Fathul Baari-Syarah Kitab Imam Bukhori).
Bahasa Arab merupakan mata pelajaran bahasa yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan serta menumbuh kembangkan sikap positif terhadap Bahasa Arab, baik reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis. Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur'an dan al- Hadis, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik. Untuk itu, Bahasa Arab di Madrasah dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa, yang mencakup empat keterampilan (maharoh) berbahasa yang diajarkan secara integral, yaitu menyimak (mahaaratu al istima’), berbicara (mahaaratu al-kalaam), membaca (mahaaratul al Qira’ah), dan menulis (mahaaratu al kitaabah).
Berdasarkan hal tersebut di atas, bahasa Arab di madrasah dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa, yang mencakup empat keterampilan berbahasa yang diajarkan secara integral. Meskipun begitu, pada tingkat pendidikan dasar (elementary) dititik beratkan pada kecakapan menyimak dan berbicara sebagai landasan berbahasa. Pada tingkat pendidikan menengah (intermediate), keempat kecakapan berbahasa diajarkan secara seimbang. Adapun pada tingkat pendidikan lanjut (advanced) dikonsentrasikan pada kecakapan membaca dan menulis, sehingga peserta didik diharapkan mampu mengakses berbagai referensi berbahasa Arab.
Mata pelajaran Bahasa Arab pada tingkat Tsanawiyah menurut kurikulum yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI adalah :
“Bertujuan untuk membekali peserta didik agar mampu : (a). Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, baik lisan maupun tulis, yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yakni menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah). (b). Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar, khususnya dalam mengkaji sumber-sumber ajaran Islam. (c). Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya”.

Dengan demikian, hasil belajar Bahasa Arab dinilai dari sejauh mana siswa mewujudkan kemampuan yang meliputi perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif. Namun demikian berdasarkan data pada tahun pelajaran 2014/2015 pada bagian Kurikulum MTs Attaqwa Pusat Putra Bekasi, mencatat secara umum hasil belajar Bahasa Arab siswa masih realtif rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya.
Kondisi ini, tidak lepas kaitannya dengan peran guru dalam menyampaikan materi mata pelajaran Bahasa Arab di kelas. Seringkali guru menerangkan materi secara monolong dan tidak memperhatikan apakah siswanya dapat mengikuti atau tidak. Model pembelajaran ini kemungkinan besar hanya dapat diikuti oleh siswa-siswa tertentu saja sedangkan bagi siswa yang lainnya akan merasa berat mengikuti pembelajaran tersebut. Selain itu, kemampuan siswa dalam menyerap materi sangat beragam, ada kelompok siswa yang sangat cepat dalam menangkap materi pembelajaran, ada yang biasa saja dan ada kelompok yang memang sangat lambat. Terutama dalam pembelajaran Bahasa Arab, seorang guru harus menguasai keterampilan berbahasa tetapi juga model pembelajaran, dalam hal ini pembelajaran bahasa Arab. Oleh karena itu guru sebaiknya memperhatikan keberagaman kemampuan siswa dalam proses pembelajaran di kelas, agar materi yang disampaikan dapat di pahami dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai, sesuai dengan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bahasa Arab.
Paradigma yang lama adalah guru memberikan informasi secara pasif. Yaitu : 1) memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, 2) megisis botol kosong dengan pengetahuan, 3) mengotak-ngotakkan siswa, 4). memacu siswa dalam kompetisi bagaikan ayam aduan. Dari kempat paradigma tersebut melahirkan pembelajaran kooperaif yang memungkin siswa belajar secara aktif dan tidak menjadikan guru sebagai teacher center.
Pembelajaran kooperatif menjadi salah satu solusi baru sekitar tahun tujuh puluhan, dan sekarang sudah banyak digunakan dalam pembelajaran termasuk pembelajaran bahasa Arab. Mengapa pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dipandang mampu meningkankan keaktifan dalam pembentukan pengetahuan secara aktif. Menurut Johnshon & Shonson dalam Anita Lie menjelaskan bahwa banyak dari hasil penelitian yang mendukung bahwa pembelajaran kooperatif menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologi yang lebih baik daripada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisah-misahkan siswa.
Menjadi suatu keharusan untuk saling bekerjasama dan saling berbagi informasi dalam belajar siswa, agar tujuan dari pembelajaran menjadi tercapai. Salah satu alternatif dari solusi terhadap masalah yang dihadapi siswa dalam mencapai keterampilan berbahasa tanpa harus menjauh dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial bahkan lebih mengoptimalkannya, yaitu dengan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share yang kemudian disingkat menjadi (TPS). Dalam pembelajaran ini siswa dilibatkan dalam pembelajaran mandiri atau berkelompok, serta dilatih untuk berinteraksi sosial dengan berbagi informasi, pengetahuan, tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota kelompok. Dalam pembelajaran model ini siswa diharapkan dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Penjelasan di atas merupakan gambaran proses pembelajaran yang terdapat di MTs. Attaqwa Pusat Putra, dimana peserta didik sama seperti gelas kosong yang siap diisi oleh guru, dimana guru menjadi pusat belajar atau dengan istilah lain Teacher Center sehingga peserta didik masih banyak yang belum mecapai target belajar. Faktor yang memengaruhi kondisi tersebut ialah:
                    1.        Asal sekolah dasar yang berbeda-beda, ada yang dari SD (Sekolah Dasar) dan MI (Madrasah Ibtidaiyah), bagi yang berasal dari MI, maka sudah memiliki bekal bahasa Arab. Sehingga memengaruhi kemapuan awal yang berbeda pada setiap peserta didik.
                    2.        Model pembelajaran yang masih konvensional, tidak berpusat kepada siswa.
                    3.        Peserta didik di MTs. Attaqwa Pusat Putra akan disiapkan untuk masuk di MA. Attaqwa Pusat Putra yang mana lulusan peserta didik MA. Attaqwa Pusat Putra akan diarahkan masuk ke perguruan tingi di Timur Tengah, dan sekitarnya seperti Mesir, Madinah, Yaman, Saudi Arabia, Turki, dan sebagainya. Akan tetapi hal ini belum terwujud 100%, karena dari ratusan alumni yang diluluskan pada tahuannya, hanya puluhan, bahkan tidak mencapai 20 orang lulusan yang melanjutkan studinya keluar negri timur tengah. Seperti data yang diperoleh pada tahun 2013-2014 siswa yang melanjutkan dan diterima di perguruan-perguran timur tengah, seperti Al-Azhar University di Mesir, Rubath di Yaman dan beberapa perguruan tinggi luar negri lainnya.
                    4.        Model penilian yang masih bersifat subjektif, tidak dicatat untuk mengukur kemampuan yang menjadi tujuan pembelajaran.
                    5.        Dokumen hasil latihan, ulangan dan karya pada pelajaran bahasa Arab tidak dikumpulkan dan tidak diberikan kembali kepada siswa.
Beberapa persoalan di atas, menjadi daya tarik peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home